Judul : Gus Shampton Dorong Santri MAN 2 Kota Malang Hidupkan Tradisi Literasi Lewat Cerita Humor
link : Gus Shampton Dorong Santri MAN 2 Kota Malang Hidupkan Tradisi Literasi Lewat Cerita Humor
Gus Shampton Dorong Santri MAN 2 Kota Malang Hidupkan Tradisi Literasi Lewat Cerita Humor
Kepala MAN 2 Kota Malang H Samsudin menyerahkan buku hasil karya Santri dan pegawai di lingkungan Kemenag saat acara workshop dan lomba Menulis Humor kepada Kepala Kemenag Kota Malang Gus Shampton.
MALANG | KEJORANEWS.COM: Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Shampton Masduki, S.Ag., mendorong para santri dan pelajar untuk terus menghidupkan tradisi menulis sebagai bagian penting dalam menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam. Menurutnya, budaya literasi harus menjadi kekuatan utama madrasah dan pesantren dalam melahirkan generasi yang berilmu sekaligus produktif menghasilkan karya intelektual.
Pesan tersebut disampaikan pejabat yang akrab disapa Gus Shampton itu saat membuka Lomba Menulis Cerita Humor Santri yang dipusatkan di MAN 2 Kota Malang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus memberikan ruang bagi santri untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berbahasa, dan keterampilan menulis.
Dalam arahannya, Gus Shampton mengingatkan pentingnya ungkapan hikmah dalam tradisi keilmuan Islam, qayyidul ‘ilma bil kitab yang berarti ikatlah ilmu dengan tulisan.
Ia menjelaskan, kejayaan keilmuan Islam dan Nusantara sejak masa klasik hingga dikenal di dunia internasional tidak terlepas dari tradisi para ulama yang rajin menulis, mendokumentasikan, dan membukukan pemikiran serta hasil kajian keilmuan mereka.
”Nusantara dahulu sangat dikenal di seantero dunia berkat kedalaman ilmu dan kitab-kitab karya ulamanya. Tulisan karya ulama kita, seperti Syekh Nawawi Banten, bahkan dipelajari hingga kampus-kampus luar negeri. Dulu ulama-ulama kita menjadi rujukan pengajar di Masjidil Haram berkat otoritas keilmuan dan karya tulisnya,” jelas Gus Shampton di hadapan para pengasuh ma’had, guru, serta santri MAN 2 Kota Malang.
Tradisi Menulis Menjaga Warisan Keilmuan Islam
Lebih lanjut, Gus Shampton menguraikan bahwa keberlangsungan khazanah pemikiran Islam selama berabad-abad tidak terjadi begitu saja. Tradisi pencatatan, pembukuan, dan verifikasi ilmu pengetahuan menjadi faktor penting yang memungkinkan pemikiran para ulama tetap dipelajari dan diwariskan lintas generasi.
Ia mencontohkan keberlangsungan kajian Mazhab Syafi’i serta periwayatan hadis oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW. Berbagai pemikiran dan ajaran tersebut dapat terus dipelajari karena adanya tradisi keilmuan yang kuat dalam mencatat dan menjaga keakuratan sumber pengetahuan.
Karena itu, menurutnya, santri tidak cukup hanya menguasai ilmu melalui kegiatan membaca, mendengar, dan berdiskusi. Mereka juga perlu membiasakan diri menuangkan gagasan ke dalam tulisan agar pengetahuan yang diperoleh dapat terdokumentasi dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Humor Santri, Media Kreatif Menyampaikan Nasihat
Terkait pemilihan tema cerita humor dalam perlombaan tersebut, Gus Shampton menilai humor merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari karakter kehidupan santri dan kultur pesantren.
Di lingkungan pesantren, humor bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga dapat menjadi media komunikasi yang cerdas untuk menyampaikan nasihat, mencairkan suasana, hingga membantu menyelesaikan persoalan kehidupan dengan pendekatan yang bijaksana.
”Santri itu kaya dengan humor. Banyak persoalan rumit bisa terselesaikan dengan guyon yang sarat makna. Potensi ini menjadi sarana yang sangat menarik bila diasah ke dalam karya tulisan yang bernas,” tuturnya.
Melalui lomba tersebut, para santri diharapkan mampu mengembangkan humor yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga memiliki pesan moral, nilai edukasi, dan refleksi kehidupan.
Dengan demikian, cerita humor dapat menjadi bentuk kreativitas literasi yang menyenangkan sekaligus sarana menyampaikan nilai-nilai kebaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah diterima pembaca.
Guru dan Pembina Berperan Menjaga Kualitas Tulisan Santri
Gus Shampton juga mengingatkan pentingnya peran ustaz, guru, serta para pembina di lingkungan madrasah dan ma’had dalam mendampingi proses kreatif santri.
Menurutnya, kemampuan menulis perlu terus diasah melalui bimbingan, koreksi, dan proses verifikasi yang cermat. Hal ini penting agar tulisan yang dihasilkan tidak hanya menarik dari sisi bahasa, tetapi juga tepat dalam menyampaikan makna dan pemahaman.
”Jangan sampai kesalahan penulisan membuat makna ilmu bergeser. Melalui gelaran literasi dan lomba menulis ini, kita dorong madrasah dan pesantren di Kota Malang menjadi pelopor lahirnya penulis andal. Pesantren harus terus makmur dan menonjol karena karya intelektual serta keilmuannya,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi literasi di lingkungan pendidikan Islam membutuhkan ekosistem yang mendukung. Santri perlu diberi kesempatan untuk berkarya, sementara guru dan pembina bertugas memastikan proses pengembangan kemampuan menulis berjalan secara terarah dan berkualitas.
Pembiasaan menulis sejak di bangku madrasah diharapkan dapat melahirkan generasi santri yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, tetapi juga mampu menyampaikan pemikiran secara tertulis dan berkontribusi terhadap perkembangan masyarakat.
Dibuka dengan Ummul Qur’an dan Penyerahan Buku Karya Santri
Pembukaan Lomba Menulis Cerita Humor Santri di MAN 2 Kota Malang berlangsung dengan khidmat. Agenda diawali dengan pembacaan Ummul Qur’an, Surat Al-Fatihah, secara bersama-sama sebagai bentuk doa dan harapan agar kegiatan berjalan lancar serta memberikan manfaat.
Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan buku hasil karya tulis santri. Momentum ini menjadi simbol penting bahwa tradisi literasi di lingkungan madrasah dan pesantren perlu terus dirawat melalui karya nyata.
Melalui kegiatan tersebut, MAN 2 Kota Malang diharapkan semakin memperkuat budaya membaca dan menulis di kalangan peserta didik. Semangat Hari Santri Nasional pun tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui upaya nyata melahirkan santri yang kreatif, kritis, produktif, dan mampu mewariskan ilmu pengetahuan melalui tulisan.
Sebab, ilmu yang ditulis akan memiliki peluang lebih besar untuk terus dibaca, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Demikianlah Artikel Gus Shampton Dorong Santri MAN 2 Kota Malang Hidupkan Tradisi Literasi Lewat Cerita Humor
Anda sekarang membaca artikel Gus Shampton Dorong Santri MAN 2 Kota Malang Hidupkan Tradisi Literasi Lewat Cerita Humor dengan alamat link https://wahkabar.blogspot.com/2026/10/gus-shampton-dorong-santri-man-2-kota.html

